Model Pembelajaran


MODEL PEMBELAJARAN BERPUSAT PADA SISWA

Oleh Rina Farida

 A.    Pendahuluan

Era globalisasi menuntut kemampuan daya saing yang kuat dalam berbagai bidang, seperti bidang teknologi, manajemen dan sumberdaya manusia. Untuk mempersiapkan hal tersebut, bidang pendidikan merupakan ujung tombak yang sangat penting. Berbagai program peningakatan kualitas pendidikan telah dirancang, termasuk payung yuridis formal, dan dilaksanakan. Di antara program itu membentuk Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). SSN adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi Standar  Nasional Pendidikan (SNP), yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, standar sarana dan prasarana, standar tenaga pendidik dan kependidikan, standar manajemen (pengelolaan), standar pembiayaan, dan standar penilaian. Sementara itu SBI adalah sekolah SBI adalah sekolah nasional yang menyiapkan peserta didiknya berdasarkan SNP Indonesia dan taraf internasional sehingga lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan kata lain SBI adalah SSN + X.

Bertolak dari karakteristik SBI di atas, salah satu standar yang harus dicapai adalah standar proses. Dalam pendekatan IPO ( input-proses-output) kualitas pendidikan akan bisa dicapai kalau proses berjalan dengan baik. Mengingat pentingnya hal tersebut, pemerintah mengatur hal tersebut melalui Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Standar Proses  untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Permendiknas tersebut mengemukakan bahwa dalam penyusunan perencanaan proses pembelajaran setiap guru pada satuan pendidikan selain dituntut menyusun silabus juga berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, ketentuan-ketentuan penting yang harus dipenuhi guru di antaranya menyangkut pengelolaan kelas  dan pelaksaan pembelajaran. Dalam pengelolaan kelas, hal-hal yang harus dilakukan guru antara lain sebagai berikut.

  1. Mengatur tempat duduk sesuai dengan ka­rakteristik peserta didik dan mata pelajaran, serta aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.
  2. Menggunakan volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik.
  3. Menggunakan tutur kata guru santun dan dapat dimengerti oleh peserta didik.
  4. Menyesuaikan materi pelajaran dengan kecepatan dan kemampuan belajar peserta didik.
  5. Memberikan penguatan dan umpan balik ter­hadap respons dan hasil belajar peserta didik se­lama proses pembelajaran berlangsung.
  6. Menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan sta­tus sosial ekonomi.
  7. Menghargai pendapat peserta didik;
  8. Menciptakan ketertiban, kedisiplinan, kenyamanan, keselamatan, dan kepatuhan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses pembelajaran.
  9. Memberikan penguatan dan umpan balik ter­hadap respons dan hasil belajar peserta didik se­lama proses pembelajaran berlangsung.
  10. Menghargai peserta didik tanpa memandang latar belakang agama, suku, jenis kelamin, dan sta­tus sosial ekonomi.
  11. Menghargai pendapat peserta didik.
  12. Memakai pakaian yang sopan, bersih, dan rapi.
  13. Menyampaikan sila­bus mata pelajaran yang diampunya pada tiap awal semester.
  14. Memulai dan mengakhiri proses pembela­jaran sesuai dengan waktu yang dijadwalkan.

Sementara itu dalam pelaksanaan pembelajaran yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup, guru dituntut melakukan berbagai kegiatan. Dalam kegiatan pendahuluan, guru (1) menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, (2) mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengait­kan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, (3) menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan (4) menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. Dalam kegiatan inti yang merupakan proses pem­belajaran untuk mencapai KD, guru perlu (1) melakukan kegiatan  yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi­tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik; (2) menggunakan metode yang sesuai dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­jaran serta meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi; dan (3) berperan sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar, membantu menyelesaikan masalah, memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi, memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh, serta memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif. Adapun  dalam kegiatan penutup, guru(1) sendiri dan atau bersama-sama dengan peserta didik  membuat rangkuman/simpulan pelajaran, (2) melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsis­ten dan terprogram, (3) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran, dan (4) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik.

 B.     Pendekatan Pembelajaran

Untuk mewujudkan proses pembelajaran sesuai dengan ketentutan-ketentuan di atas, pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan sebagai dasar pijakan di antaranya sebagai berikut.

 1.      Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan (PAKEM)

Sekolah dapat diibaratkan sebagai sebuah ”pabrik” yang mempoduksi sesuatu. Sebagai sebuah pabrik, sekolah menerima masukan/bahan mentah yang dalam hal ini calon siswa dengan berbagai kualitas. Calon siswa inilah yang ”diolah” melalui proses pembelajaran agar menjadi hasil/lulusan yang baik. Dengan demikian bagian proses merupakan unsur yang sangan penting dalam menentukan hasil yang baik. Bagian proses ini pula dari waktu ke waktu perlu dicermati untuk terus diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya. Salah satu cara untuk memperbaiki  proses tersebut dengan mengembangkan dan menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).

Berbeda dengan pabrik yang inputnya/bahan mentah adalah benda mati, sekolah memiliki input dalam hal ini siswa dengan berbagai karakteristik. Ia memiliki beberapa potensi, yakni intelegensi, daya kreativitas/imajinasi, kemampuan berbahasa, kecepatan belajar, motivasi, sikap, minat, emosi/perasan, mental, dan fisik. Untuk itu, proses pembelajaran dipandang lebih rumit dibandingkan dengan pembuatan suatu barang (dalam hal ini benda mati). Proses pembelajaran diharapkan bisa mengembangkan potensi yang dimiliki siswa.Untuk bisa mencapai keberhasilan atau output yang baik, proses pembelajaran perlu dirancang  sedemikian rupa yang bisa mengaktifkan siswa, mengembangkan kreativitas mereka sehingga pembelajaran berlangsung efektif, namun tetap menyenangkan (Learning should be fun).

Proses pembelajaran merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Sehubungan dengan itu, pembelajaran perlu dikemas dengan  anak mengalami langsung apa yang sedang dipelajari. Dengan cara demikian siswa akan lebih aktif melibatkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan orang lain/guru menjelaskan. Siswa belajar hanya 10% dari apa yang dibaca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang dilihat, 50% dari apa yang dilihat dan didengar, 70% dari apa yang dikatakan, dan 90% dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa jika guru dalam proses pembelajaran  banyak melakukan ceramah, maka tingkat pemahaman siswa hanya 20%. Tetapi sebaliknya, jika siswa diminta untuk melakukan sesuatu sambilmelaporkannya, tingkat pemahaman siswa dapat mencapai sekitar 90%. Pembelajaran yang dikemas dengan  anak mengalami langsung apa yang sedang dipelajari akan menjadikan siswa aktif bertanya,bekerja, terlibat dan berpartisipasi, menemukan dan memecahkan masalah, mengemukakan gagasan, dan mempertanyakan gagasan.

            Kreatif merujuk pada kemampuan untuk berpikir lebih orisinal dibandingkan kebanyakan orang lain. Siswa kreatif adalah siswa yang ”berpikir divergen”, yaitu corak berpikir yang mencari jalan-jalan baru, lebih-lebih dalam memecahkan masalah. Dalam proses pembelajaran apabila  guru kreatif dalam mengembangkan kegiatan yang menarik  dan beragam, membuat alat bantu belajar, memanfaatkan lingkungan belajar, mengelola kelas dan sumber belajar, merencanakan proses dan hasil belajar akan dapat membentuk siswa keatif baik dalam memecahkan masalah maupun menghasilkan karya.

            Pembelajaran merupakan upaya memberikan pengalaman kepada siswa agar mereka mampu mengembangkan potensi diri. Dengan kata lain, pengalaman belajar diberikan agar siswa dapat meraih kompetensi yang telah ditentukan. Untuk itu, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan memerapkan hal-hal yang dipelajarinya. Siswa harus mampu menggunakan fakta-fakta yang sudah dipelajari untuk menjelaskan situasi atau menerapkan informasi pada situasi baru. Mereka harus mengembangkan pemikiran atau keterampilan dalam situasi baru. Selain itu, mereka juga harus dapat mengembangkan dan menerapkan sikap/nilai yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari.

            Pembelajaran yang menyenangkan dapat menjadi penentu utama apakah kuantitas dan kualitas belajar yang terus berlangsung atau tidak bagi siswa. Pembelajaran yang menyenagkan bukan berarti menciptakan suasana ribut, hura-hura, nyanyi-nyanyi yang tidak berdasar, atau kemeriahan yang dangkal. Pembelajaran yang menyenangkan tercipta karena siswa merasa terlibat secara intelektual maupun emosional. Mereka menghadapi suasana membuat mereka tidak merasa terancam. Mereka  tahu betapa penting dan menantangnya apa yang dipelajari, mereka memperoleh suasana yang ramah, dan mempunyai suara atau kesempatan dalam membuat keputusan. Mereka berada dalam situasi berani mencoba/berbuat, berani bertanya, berani mengemukakan pendapat/ gagasan, dan berani mempertanyakan gagasan orang lain.

 2.      Contextual Teachinbg and Learning (CTL)

Contextual Teachinbg and Learning (CTL) merupakan  konsep pembelajaran yang mengaitkan  materi pembelajaran dengan  situasi dunia nyata. Pembelajaran yang demikian dapat  memotivasi  siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas  dan penerapannya  dalam kehidupan  mereka sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan sebagai tenaga kerja. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa (pembelajar) (US Departemen of Education and the National School-to Work Office, 2001).

            Konsep CTL sebenarnya bukan merupakan hal baru. Konsep dasar pendekatan ini sudah diperkenalkan John Dewey sejak tahun 1916. Dia mengungkapkan bahwa kurikulum dan metodologi guruan seharusnya memiliki  hubungan yang erat dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan sangat efektif apabila pengetahuan baru itu diberikan berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Dengan kata lain, pengetahuan yang diberikan hendaknya berhubungan erat dengan pengalaman siswa sesungguhnya atau merupakan pengalaman nyata.

            Pemikiran Dewey tersebut didukung Katz (1981) dan Howey & Zipher (1989). Mereka menyatakan bahwa suatu program pembelajaran bukanlah sekedar suatu kumpulan mata pelajaran, namun lebih dari itu. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan  dalam menyusun suatu program pembelajaran. Hal yang dimaksud antara lain guru harus  dapat menjelaskan dan mempunyai pandangan yang sama tentang beberapa konsep dasar seperti (1) peran guru, (2) hakikat pengajaran dan pembelajaran, dan (3) misi sekolah dan masyarakat. Guru perlu menyepakati bahwa bila ketiga hal tersebut bermuara pada CTL,  pembelajaran akan berhasil dengan baik. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk siswa  bekerja dan mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

            Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya,  bagaimana status mereka, dan bagaimana mencapai hasil belajar. Siswa perlu menyadari bahwa  yang mereka pelajari  akan berguna bagi kehidupannya nati. Dengan begitu mereka akan memosisikan sebagai orang yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.

            Pembelajaran kontekstual pada dasarnya merupakan perpaduan antara beberapa pendekatan  dan praktik guruan yang baik yang ada  sebelumnya, yakni konsep Dewey, pragmatik, komunikatif, dan konstruktivis. Penekanan CTL terletak pada cara berpikir, transfer pengetahuan lintas disiplin, pengumpulan, penganalisisan dan penyintesisan informasi dan data dari berbagai sumber dan pandangan (Kasihani, 2002).

            Ciri-ciri pendekatan CTL menurut Blancard (2001) sebagai berikut.

  1. Pembelajaran menekankan pada pentingnya pemecahan masalah.
  2. Pembelajaran dilakukan dalam berbagai konteks seperti rumah, masyarakat, dan tempat kerja.
  3. Pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk belajar mandiri.
  4. Pembelajaran yang menekankan pada konteks kehidupan siswa yang berbeda-beda.
  5. Pembelajaran yang mendorong siswa untuk dapat belajar dari sesama teman dan belajar bersama dalam kelompok.
  6. Pembelajaran yang menggunakan penilaian autentik.

Sedangkan Center for Occupapational Research (COR) di Amerika Serikat memberikan ciri CTL dengan akronim REACT atau releting, experiencing, apllying, cooperating, and transfering yang jabarannya sebagai berikut.

  1. Relatinyaitu pembelajaran yang dihubungkan dengan konteks kehidupan nyata.
  2. Experiencing yaitu pembelajaran dilakukan dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan.
  3. Apllying yaitu pembelajaran dilakukan dengan memadankan pengetahuan dan kegunaannya.
  4. Cooperating yaitu pembelajaran dilakukan dalam konteks interaksi kelompok.
  5. Transfering yaitu pembelajaran dengan menggunakan pengetahuan dalam konteks baru/konteks lain.

Adapun University of Washington mengidentifikasi ciri-ciri CTL sebagai berikut.

  1. Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.
  2. Pembelajaran yang menekankan pada kemampuan pembelajar untuk menerapkan pengetahuan dalam tatanan-tatanan lain.
  3. Pembelajaran yang menekankan pada kemampuan berpikir tingkat tinggi atau berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu issu serta memecahkan suatu masalah.
  4. Pembelajaran menggunakan kurikulum yang dikembangkan  berdasarkan standar (lokal, regional, nasional, asosiasi, dan industri)
  5. Pembelajaran yang tanggap terhadap budaya.
  6. Pembelajaran yang menggunakan penilaian otentik dengan menggunakan berbagai macam alat dan stratergi penilaian secara benar yang mencerminkan hasil belajar pembelajar sesungguhnya, misalnya tes,  proyek atau tugas, portofolio, rubrik, ceklis, panduan pengamatan. Siswa diberi kesempatan untuk ikut aktif berperan serta dalam menilai pembelajaran  mereka sendiri.
  1. a.      Konstruktivisme (Constructivism)

Constructivism (konstruktivisme) merupakan landasan filosofis atau landasan berpikir CTL. Constructivism berpandangan  bahwa pengetahuan  dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas  melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan  bukanlah seperangkat  fakta, konsep, atau kaidah  yang siap diambil atau diingat. Manusia harus menkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

            Dalam constructivism, pembelajar perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan  sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Guru tidak mampu memberikan  semua pengetahuan  kepada pembelajar. Pembelajarlah yang harus mengkonstruksi atau membentuk pengetahuannya sendiri. Esensi konstruktivisme adalah pembelajar harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi miliki mereka sendiri.

            Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “merekontruksi pengetahuan” bukan “menerima pengetahuan”. Dalam proses pembelajaran, pembelajar membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan secara aktif dalam proses belajar-mengajar. Dalam proses pembelajaran pembelajarlah yang menjadi pusat kegiatan, bukan guru.

            Struktur pengetahuan dikembangkan dalam otak manusia  melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Yang dimaksud asimilasi adalah struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Sedangkan akomodasi adalah struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman ba/pengetahuan baru.

            Menurut Zahorik (1995:14—22), ada 5 unsur yang harus diperhatikan dalam praktik pembelajaran konstruktivistik:

1)      Mengaktifkan pengetahuan yang sudah ada (prior knowledge).

2)      Memeroleh pengetahuan dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu baru memperhatikan detailnya.

3)      Memahami pengetahuan dengan cara (1) menyusun konsep sementara (hipotesis), (2) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapatkan tanggapan (validasi), dan (3) merevisi dan mengembangkan konsep. Demikian seterusnya.

4)      Mempraktikkan pengalaman yang telah diperolehnya.

5)      Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

  1. b.      Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Untuk itu, bertanya merupakan strategi utama  pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir pembelajar. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran berbasis inkuiri, yakni menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

            Kegiatan  bertanya dalam pembelajaran memiliki beberapa kegunaan, antara lain

1)      untuk menggali informasi, baik informasi administrasi maupun akademis,

2)      untuk mengecek pemahaman pembelajar,

3)      untuk membangkitkan tanggapan pembelajar,

4)      untuk mengetahui sejauhmana keinginan pembelajar,

5)      untuk mengetahui hal-hal apa saja yang diketahui sisw,

6)      untuk memfokuskan perhatian sisw pada sesuatu yang dikehendaki guru,

7)      untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan pembelajar, dan

8)      untuk menyegarkan kembali pengetahuan pembelajar.

  1. c.       Inkuiri (Inkuiri)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang dipeoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Untuk itu, guru harus selalu merancang kegiatan yang membuat pembelajar dapat menemukan.  Inkuiri memiliki siklus sebagai berikut.

1)      Observasi

2)      Bertanya

3)      Mengajukan hipotesis atau dugaan

4)      Pengumpulan data

5)      Penyimpulan

  1. d.      Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep “learning community” menyarankan agar hasil pembelajaran yang diperoleh siswa merupakan hasil dari kerjasama dengan orang/pihak lain. Hasil belajar diperoleh dari “sharing” antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Anggota masyarakat belajar tidak hanya terbatas pada orang-orang yang berada di dalam kelas saja, tetapi juga orang-orang di sekitar sekolah atau di luar sekolah. Dalam pembelajaran berbasis CTL, guru disarankan selalu menggunakan pembelajaran  dalam kelompok-kelompok belajar. Selain itu, dalam pembelajaran, guru dapat melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang “ahli” ke kelas.

  1. e.       Pemodelan (Modelling)

Dalam pembelajaran, pengetahuan atau keterampilan tertentu membutuhkan model yang bisa ditiru. Model bisa berupa  cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola, contoh karya tulis, cara melafalkan kata dalam bahasa, dan sebagainya.

Dalam pendekatan CTL, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan pembelajar. Seorang pembelajar bisa ditunjuk untuk memberikan contoh pada temannya tentang cara melakukan sesuatu. Model juga bisa didatangkan dari luar sekolah.

  1. f.       Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir tentang apa yang sudah dilakukan pada masa lalu. Refleksi juga merupakan respon terhadap kejadian , kegiatan, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi ini bagi pembelajar juga dapat direalisasikan dalam berbagai bentuk, misalnya catatan atau jurnal di buku pembelajar, diskusi, atau hasil karya.

  1. g.      Penilaian Autentik (Authentic Assessment)

Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran  perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar  perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data yang dikumpulkan guru mengindikasikan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam belajar, guru bisa segera  mengambil tindakan yang tepat. Oleh karena  gambaran tentang kemajuan  belajar itu diperlukan  di sepanjang proses pembelajaran, assessment tidak dilakukan di akhir periode (semester) pembelajaran (semester) seperti pada kegiatan evaluasi hasil belajar (seperti UAS), tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dalam pembelajaran.

Assessment menekankan pada proses pembelajaran. Untuk itu, data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. Data yang demikian itu disebut data authentic.

. Dalam penilaian autentik, kemajuan belajar siswa tidak hanya dinilai dari hasil belajarnya saja tetapi juga dari proses. Demikian pula, pengetahuan, keterampilan (performansi), dan sikap yang diperoleh siswa tidak hanya dinilai oleh guru, tetapi juga oleh teman lain atau siswa lain, atau juga dirinya siswa sendiri.

Penilaian autentik memiliki karakteristik (1) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (2) bisa digunakan untuk penilaian formatif maupun sumatif, (3) yang diukur pengetahuan dan keterampilan (performansi), bahkan sikap, (4) berkesinam-bungan, (5) terintegrasi, dan (5) dapat digunakan sebagai feed back atau umpan balik

Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian otentik antara lain (1) proyek/kegiatan/tugas, (2) PR pembelajar, (3) kuis, (4) karya siswa, (5) presentasi/ penampilan pembelajar/unjuk kerja, (6) demonstrasi, (7) laporan, (8) jurnal, (9) hasil tes, dan (10) karya tulis.

 C.   Model Pembelajaran

Bertolak dari pendekatan tersebut, model pembelajaran yang dilakukan dapat menggunakan multimetode berikut.

  1. 1.      Metode Pembelajaran Langsung
  • Siswa bersama guru mereview materi pembelajaran yang telah dipelajari
  • Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai
  • Guru melakukan presentasi (bisa model deduktif atau induktif)

      – materi diorganisasikan per bagian dengan baik

      – advance organizer dibuat

      – demonstrasi/modelling dan peta konsep dilakukan bila diperlukan

  • Siswa melakukan latihan dengan bimbingan guru.
  • Siswa melakukan latihan secara mandiri (Lembar Kerja Siswa).
  • Siswa secara periodik dicek keterampilan/ pengetahuannya.
  •  Guru melakukan konfirmasi/penguatan.
  1. 2.      Metode Diskusi
  • Guru menyampaikan materi dan menyiapkan pertanyaan dan mengelompokkan pertanyaan sebelumnya.
  • Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.
  • Siswa dibentuk menjadi keompok- kelompok dan diberi pertanyaan yang sudah disiapkan.
  • Setiap kelompok mendiskusikan jawaban terhadap pertanyaan tersebut.
  • Setiap kelompok atau salah satu kelompok memresentasikan hasil diskusinya.
  • Kelompok lain menanggapi, bertanya, atau memberikan masukan .
  • Guru melakukan konfirmasi/penguatan.
  1. 3.      Metode Jigsaw
  • Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok dengan beranggotakan xx.
  • Tiap individu dalam kelompok diberi bagian materi yang berbeda untuk dipelajari.
  • Anggota kelompok membentuk kelompok baru (kelompok ahli) berdasarkan bagian materi yang sama dan mendiskusikannya.
  • Setelah selesai diskusi dengan kelompok ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian mengajar/melaporkan hasil diskusi kepada anggota kelompok yang lain.
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya pada forum.
  • Guru mengevaluasi presentasi/dan memberikan penguatan.
  1. 4.      Think Pair and Share (Berpikir-Berpasangan-Sharing)
  • Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.
  • Guru menyampaikan inti materi dan menyampaikan permasalahan atau pertanyaan yang problematis.
  • Siswa diminta untuk berfikir secara individu dan menulis jawabannya.
  • Siswa diminta untuk berpasangan dan saling mengutarakan jawaban masing-masing.  Pasangan dapat bergabung dengan pasangan lain untuk memadukan jawaban dan menyiapkan pajangan thd pertanyaan/masalah tsb
  • Guru memimpin diskusi pleno.  Tiap-tiap kelompok menyampaikan hasil diskusi dan pajangan dan guru memberikan penguatan dan tambahan.
  • Guru memberi kesimpulan dan penutup.
  1. 5.      Investigasi Kelompok
  • Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen.
  • Guru menyampaikan kompetensi yang akan dicapai.
  • Guru memanggil ketua-ketua kelompok untuk diberi  materi/tugas yang berbeda.
  • Setiap kelompok membahas tugas yang diberikan secara kooperatif dan melakukan investigasi.
  • Setelah selesai diskusi, lewat juru bicaranya kelompok menyampaikan hasil pembahasan.
  • Guru memberikan penguatan.
  • Evaluasi dan penutup.
  1. 6.      Inquiry
  • Guru menyampaikan masalah
  • Siswa melakukan pengamatan
  • Berdasarkan hasil pengamatan, siswa mengajukan pertanyaan.
  • Siswa merumuskan dugaan.
  • Siswa mengumpulkan data.
  • Berdasarkan data yang diperoleh, siswa menyimpulkan.
  1. 7.      Debate
  • Siswa dibentuk menjadi dua kelompok, yaitu kelompok  yang pro dan yang kontra.
  • Setiap kelompok diminta membaca materi yang akan didebatkan.
  • Satu anggota kelompok yang prodiminta guru  untuk berbicara dan ditanggapi oleh anggota kelompok kontra, demikian seterusnya.
  • Ide/gagasan dari setiap pembicaraan dituliskan guru di papan tulis sampai sejumlah ide yang diharapkan guru terpenuhi.
  • Guru menambahkan ide yang belum terungkap.
  • Dari data-data di papan tulis, guru mengajak siswa membuat kesimpulan/rangkuman yang mengacu pada kompetensi yang ingin dicapai
  1. 8.      Role Play
  • Guru menyusun skenario yang akan dimainkan.
  • Guru menunjuk beberapa siswa (sesuai dengan kebutuhan peran) untuk mempelajari skenario dua hari sebelum PBM.
  • Guru menjelaskan kompetensi yang akan dicapai.
  • Guru memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk bermain peran sesuai dengan skenario yang telah disiapkan, siswa yang lain mengamati dengan cermat apa yang dimainkan kelompok dan topik yang disampaikan.
  • Siswa di setiap kelompok diberi lembar kerja untuk membahas hasil pengamatan.
  • Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya.
  • Guru bersama siswa menyimpulkan materi.
  1. 9.       Problem Solving
  • Ssiwa diminta memformulasikan dan mendefinisikan masalah dengan jelas dan ringkas.
  • Siswa mengidentifikasi faktor-faktor yang sesuai.
  • Siswa mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. (fakta dan pengetahuan ttg masalah)
  • Siswa menentukan berbagai pemecahan masalah.
  • Siswa memilih pemecahan masalah tentatif.
  • Siswa menguji pemecahan masalah yang dipilih.
  • Siswa menilai hasil pemecahan masalah.
  • Guru memberikan konfirmasi/penguatan.
  1. 10.  STAD( StudentTeam Achievement Division)
  • Guru menyajikan topik baru/masalah baru.
  • Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok.
  • Siswa secara kelompok mendiskusikan topik tersebut .
  • Guru memberikan kuis kepada masing-masing kelompok .
  • Guru menghitungan nilai kelompok .
  • Guru memberikan penghargaan .
  • Guru memberikan penguatan.

 

  1. 11.   TGT ((The Teams-Games Tournament)
  • Guru menyajikan materi (konsep) baru.
  • Siswa dibentuk menjadi  kelompok belajar secara heterogen.
  • Setiap kelompok mendiskusikan konsep baru tersebut
  • Setiap kelompok berpartisipasi dalam turnamen akademik.
  • Guru memberikan penghargaan terhadap kelompok yang menang.
  1. 12.  Articulation(Artikulasi)
  •  Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
  • Guru menyajikan materi.
  • Untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan dua orang.
  • Suruhlah seorang dari pasangan itu menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengarkan sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran.
  • Suruh siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya. sampai sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancarannya.
  • Guru memberikan konfirmasi/penguatan.
  1. 13.  Pemodelan (Modelling)
  • Guru menyampaiakan kompetensi
  • Guru melakukan pemodelan/demonstrasi prosedur tentang topik tertentu
  • Siswa mengingat langkah-langkah yang dilihatnya dalam pemodelan
  • Siswa menerapkan prosedur tersebut dalam topik yang berbeda.
  1. 14.  Peta Konsep (concept map)
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Guru menemukan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa. Sebaiknya permasalahan mempunyai alternatif jawaban.
  • Membentuk kelompok yang beranggotakan 2-3 orang.
  • Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi.
  • Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru.
  • Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau guru memberi bandingan sesuai konsep yang disediakan guru.
  1. 15.  Make – A Match(Mencari Pasangan)
  • Guru menyiapkan beberapa kartu yang bervariasi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  • Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
  • Setiap siswa memikirkan jawaban soal dari kartu yang dipegangnya.
  • Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  • Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  • Setelah satu babak, kartu dikocok lagi  agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Demikian seterusnya.
  • Guru membrikan penguatan
  1. 16.  Changing Partner(Bertukar Pasangan)
  • Setiap siswa diminta mencari pasangan.
  • Setiap pasangan diberi tugas yang sama oleh guru untuk menjawab pertanyaan atau memecahkan.
  • Setiap pasangan bergabung dengan pasangan baru atau lainnya dan saling menanyakan dan mengukuhkan jawaban mereka.
  • Setiap siswa berbagi informasi atau temuan baru yang diperoleh dari pasangan baru kepada pasangan semula.
  • Guru memberikan penguatan.
  1. 17.  Snowball Throwing (Bola Salju Menggelinding)
  • Guru membentuk kelompok dan ketua kelompok menyampaikan penjelasan tentang materi.
  • Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya, kemudian menyampaikan materi yang dijelskan oleh guru kepada teman-temannya.
  • Selanjutnya setiap siswa diberi satu lembar kerja untuk menuliskan satu pertanyaan yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
  • Kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti bola dan dilemparkan dari satu siswa ke siswa lainnya selama beberapa menit.
  • Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan, siswa dipersilakan menjawabnya secara bergantian.
  • Guru memberi penguatan.
  1. 18.  Student Facilitator And Explaining(Tutor Sebaya)
  • Guru mendemonstrasaikan atau menyajikan materi.
  • Guru memberikan kesempatan siswa untuk menjelaskan kepada peserta lainnya baik melalui  bagan/peta konsep maupun yang lainnya.
  • Guru menyimpulkan ide siswa.
  • Guru menyimpulkan ide siswa dan memberikan penguatan.
  1. 19.  Course Review Horay(Mengulas Pelajaran Hore)
  • Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
  • Guru mendemostrasikan materi yang sesuai dengan topik.
  • Memberikan kesempatan siswa untuk menjawab pertanyaan.
  • Untuk menguji pemahaman, siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera siswa.
  • Guru membaca soal secara acak dan siswa menuliskan jawabannya di dalam kotak nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Jika benar diberi tanda benar (P) dan jika salah diisi tanda silang (O).
  • Siswa yang sudah mendapatkan tanda (P ) vertikal atau horisontal atau diagonal harus segera berteriak HORAY …. Atau yel-yel lainnya.
  • Nilai siswa dihitung dari jawaban benar dan jumlah HORAY yang diperoleh.
  • Guru memberikan penguatan.
  1. 20.  Circulation: Cooperatif Integrated Reading And Composition (Perpaduan Membaca dan Mengarang)
  • Membentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang secara heterogen.
  • Guru memberikan wacana/kliping sesuai topik pembelajaran.
  • Siswa bekerjasama: membacakan dan menemukan ide pokok dan memberikan tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas.
  • Siswa mempresentasikan/membacakan hasil kelompok.
  • Guru-siswa membuat kesimpulan
  1. 21.  Inside-Outside Circle(Lingkaran Kecil-Lingkaran Besar)
  • Separuh kelas berdiri membentuk lingkaran kecil dan menghadap ke luar.
  • Separuh kelas lainnya membentuk lingkaran di luar lingkaran pertama menghadap ke dalam.
  • Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi informasi. Pertukaran informasi ini bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu yang bersamaan.
  • Siswa yang berada di lingkaran kecil diam di tempat sedangkan siswa yang berada di lingkaran besar bergeser satu atau dua langkah searah jarum jam sehingga masing-masing siswa mendapat pasangan baru.
  • Berikutnya giliran siswa yang berada di lingkaran besar yang membagi informasi. Demikian seterusnya.
  • Guru memberikan penguatan.
  1. 22.  Guessing Word(Tebak Kata)
  • Penjelasan materi ± 45 menit
  • Suruh siswa berdiri di depan kelas secara berpasangan.
  • Seorang siswa diberi kartu yang berukuran 10X10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang siswa lainnya diberi kartu  5X2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan di telinga.
  • Siswa yang membawa kartu 10X10 cm membacakan kata-kata yang tertulis di dalamnya sementara pasangannya menebak apa yang dimaksud pada kartu 10X10  cm. Jawaban yang tepat  bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan di dahi.
  •   Apabila jawabannnya tepat (sesuai yang tertulis pada kartu) maka pasangan boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawaban. Demikian seterusnya.
  • Guru memberikan penguatan.
  1. 23.  Lottery Card(Kartu Arisan)
  • Siswa dibentuk menjadi kelompok-kelompok beranggotakan ± 4 orang secara hiterogen
  • Setiap anggota kelompok diberi satu gulungan kertas yang berisi jawabandan satu gulungan soal dibagikan kepada siswa masing-masing 1 lembar/kartu soal digulung dan dimasukkan ke dalam gelas.
  • Guru menyiapkan gelas yang telah berisi gulungan soal
  • Guru atau siswa mengocok isi gelas dikocok dan menjatuhkan salah satu soal, kemudian dibacakan.
  • Siswa yang memegang gulungan kertas tentang jawaban soal tadi membacakannya.
  • Apabila jawaban benar maka siswa dipersilakan tepuk tangan atau yel-yel lainnya.
  • Setiap jawaban yang benar diberi poin 1 sebagai nilai kelompok sehingga total kelompok merupakan penjumlahan poin dari para anggotanya. Demikian seterusnya.
  • Guru memberikan penguatan.
  1. 24.  Cooperatif Script(Kerjasama Wacana)
  • Guru membagi siswa untuk berpasang-pasangan
  • Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
  • Guru & siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  • Pembicara membacakan ringkasan secara lengkap dengan memasukan ide-ide pokok kalimat dalam ringkasannya sedangkan pendengar:
  • Menyimak/mengoreksi/menunjukkan ide pokok  yang kurang lengkap.
  • Membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan dengan materi lainnya.
  • Bertukar peran: pendengar menjadi pembicara dan sebaliknya.
  • Guru membrikan penguatan.

Perbedaan  antara Model,Pendekatan,Metode dan Teknik

  • Model Pembelajaran adalah Bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas
  • Pendekatan adalah Konsep dasar yang mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu
  • Metode Pembelajaran adalah Prosedur, urutan langkah dan cara yang digunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran
  • Dapat dikatakan bahwa metode pembelajaran merupakan jabaran pendekatan.
  • Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode pembelajaran

Dari metode, teknik pembejaran diturunkan secara aplikatif nyata dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung

  • TeknikAdalah cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung.
  • Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

DAFTAR RUJUKAN

IAPBE. 2007. Modul Pelatihan Pelatih. Malang: IAPBE

Muijs, Daniel dan David Reynolds.2008. Effective Teaching: Teori dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sujanto, Kasihani KS. 2008. Model Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang, PSG.

Meier, Dave. 2002. The Accelerated Learning Handbook. Bandung: Kaifa.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s