Pembelajaran Matematika Berbasis TIK


 

 

 

BAB I  PENDAHULUAN

 A.       Latar Belakang

Perkembangan dunia teknologi informasi saat ini sudah sedemikian pesat dan merambah ke berbagai sisi kehidupan manusia. Perkembangan Teknologi Informasi memiliki dampak yang sangat besar dalam berbagai sisi kehidupan, mulai dari pemerintahan, administrasi, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Dalam bidang pemerintahan sekarang ini mulai dikenal istilah e-government, sedangkan dibidang perekonomian sebagian orang mungkin sudah mengenal apa yang disebut dengan e-commerce, e-business maupun e-marketing. Demikian pula dibidang pendidikan mulai banyak yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menyampaikan suatu bahan ajar dengan istilah populernya, yakni e-learning. Perkembangan yang demikian tersebut karena didukung oleh tersedianya perangkat keras maupun perangkat lunak yang semakin hari semakin hebat kemampuannya.

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat dan diterapkan dalam berbagai bidang kegiatan. Robertson mengatakan TIK digunakan dalam hampir semua aspek kehidupan dan pengaruhnya diperkirakan akan membawa dampak yang lebih besar terhadap dunia akan datang (Isjoni et al., 2008 : 76). Penerapan TIK terutama adalah memberikan kecepatan memperoleh dan mengolah informasi sehingga mampu membantu menetapkan keputusan yang lebih cepat dan tepat (Mustafa, 2007 : 2). Perkembangan TIK juga menyebabkan membanjirnya beragam informasi dengan akses yang sangat mudah. Beragam informasi tersebut jika dikelola dengan benar maka akan sangat membantu mengambil keputusan dalam berbagai aspek kehidupan. Hasil pengolahan informasi tersebut dapat dibuat untuk menimbulkan hal yang bermanfaat, merugikan atau bahkan berbahaya untuk pemakainya maupun penciptanya (Mustafa, 2007 : 2).

Penerapan TIK yang tepat akan mampu menimbulkan manfaat dalam kegiatan usaha dan industri menuntut kepada calon tenaga kerja harus memiliki kemampuan dibidang TIK. John Naisbitt mengatakan Negara yang unggul dalam teknologi informasi, maka Negara tersebut akan unggul pula dalam mendominasi dunia (Isjoni, et al., 2008 : 9).

Penerapan TIK di SMP selain pada mata pelajaran matematika, juga menerapkan pembelajaran berbasis TIK pada semua mata pelajaran (.., 2007). Penerapan didalam kegiatan pembelajaran ini diantaranya adalah sebagai media pembelajaran, penayangan materi pemelajaran, sarana menyimpan materi pembelajaran, dan sarana mendapatkan sumber pemelajaran. Selain itu penerapan TIK dalam pembelajaran SMP juga memiliki tujuan sebagai sarana kolaborasi pembelajaran dengan sister school, maka penerapan dan pemanfaatan TIK dalam proses pemelajaran matematika. Penerapan dan pemanfaatan TIK dalam Proses pembelajaran memiliki beberapa tujuan diantaranya adalah dapat dikembangkan strategi, metode pembelajaran yang lebih menarik, efektif dan efisien. Bertujuan melahirkan generasi muda yang menguasai TIK, kreatif dan inovatif serta berupaya membawa ekonomi kepada era informasi (Isjoni, et al., 2008 : 17); perluasan sumber-sumber belajar terutama dalam bentuk digital dari internet; perluasan jaringan kerjasama (networking) dan kemitraan dengan lembaga maupun sekolah lain dalam mendukung pengembangan sekolah.

Dengan pemanfaatan TIK dalam proses pembelajaran matematika diharapkan terjadi pembiasaan secara bertahap, dengan demikian akan terjadi ―efek bola salju terhadap kemampuan penguasaan TIK siswa; meningkatkan peran dan aktifitas siswa dalam proses pembelajaran; proses pembelajaran yang dapat dilaksanakan tanpa dibatasi waktu dan tempat, Anywhere, Anytime, Anything (Isjoni et al., 2008 : 79); Siswa akan mudah memahami konsep-konsep yang abstrak (Made, 2009 : 209); through an e-learning intervention, did improvestudent performance in terms of test scores… These are (1) ICT as an agent of learning, (b) site specificity, and (c) global improvement (Chandra dan Lloyd, 2008 : 1). ―e-learning system design patterns are a new means for effective, efficient and transferable instructional design in technology enhanced learning environments” (Retalis et al., 2006 : 5). ―Overall, the students‟ feedback was positive and they commented on gaining a number of skills including, using technology, group working and presentations” (Leese, 2008 : 1)

Namun sebagai Negara berkembang, tidak semua tempat dilengkapi dengan prasarana teknologi tinggi termasuk TIK, bahkan beberapa tempat belum pernah terjangkau listrik, sehingga pengelolaan pembelajaran berbasis TIK memiliki pola yang berbeda.

Pembelajaran memerlukan hubungan manusia dengan manusia dan sentuhan guru dengan murid. Guru perlu bersedia melaksanakan tugas baru bagi pengembangan TIK dalam pengajaran dan pembelajaran. Guru perlu meninggalkan pembelajaran konvensional dan memikirkan untuk pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif dengan menggunakan TIK. Namun kenyataannya tidak semua guru telah dibekali penguasaan teknologi komunikasi dan informasi, termasuk pemanfaatanya dalam pembelajaran. Ketrampilan TIK banyak guru (terutama yang lebih tua) masih lemah, yang membuat mereka tidak mampu menggunakan TIK secara efektif (Muijs et al., 2008 : 357). Dari penelitian yang dilakukan Mustafa (2007) menunjukan kurang dari setengah guru SMK yang menguasai teknologi komunikasi dan informasi (Mustafa, 2007 : 80).

Penggunaan media berbasis TIKdalam suatu proses pembelajaran diharapkan sebagai alternatif untuk mengatasi masalah kemandirian belajar yang sering dijumpai, karena penggunaan media ini memungkinkan mengajarkan seorang siswa mencari dan mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih luas di dunia internet sehingga memunculkan kreativitas siswa dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Selain itu dengan pembelajaran berbasis TIK juga diharapkan kognitif dan afektif siswa terhadap hasil belajar dapat mudah tercapai. Untuk mewujudkan pembelajaran matematika berbasis TIK diperlukan pengelolaan pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi agar terwujud pembelajaran yang diharapkan.

B.       Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, yang menjadi masalah pokok dalam makalah ini adalah bagaimana pengelolaan pembelajaran matematikan berbasis TIK.

Perencanaan pembelajaran matematika melalui pembelajaran berbasis TIK dipengaruhi beberapa faktor baik berasal dari proses pembelajaran yang berhubungan dengan motivasi, perhatian, kesiapan, keaktifan, feedback oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar yang memperhatikan kognitif, afektif dan psikomotorik maupun yang berasal teknologi infrastruktur e-learning yang berhubungan dengan pemakaian jaringan internet, spesifikasi komputer, dan keadaan akses internet.

C.        Tujuan Penulisan

Adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam makalah ini adalah untuk memberikan informasi umum kepada pembaca untuk pengelolaan  pembelajaran mata pelajaran Matematika.berbasis TIK

 

 

 

 

BAB II PEMBAHASAN

 

 A.       Pembelajaran Matematika

Perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran. Pembelajaran bukan sekedar aktivitas rutin pendidikan tetapi merupakan komunikasi edukatif yang penuh pesan, sistemik, prosedural, dan sarat tujuan. Karena itu harus dipersiapkan secara cermat. Perencanaan pembelajaran merupakan tahapan atau proses dalam proses memahami beragam dokumen normatifserta realitas kontekstual (siswa dan kebutuhannya), dan selanjutnya mewujudkan hasil pemahaman itu menjadi dokumen aplikatif(silabus dan RPP) yang siap dilaksanakan dalam pembelajaran di sekolah.

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (pasal 20 PP 19/2005). Ada dua wujud perencanaan, yakni silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Sementara itu, RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar2 yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.

Mengingat perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting menuju terlaksananya pembelajaran dan tercapainya tujuan pembelajaran, maka perlu dipersiapkan dengan baik. Selain itu, sebagai bagian dari dokumen KTSP, silabus dan RPP perlu dipersiapkan secara cermat agar dapat dijadikan acuan pembelajaran dan bukan sekedar dokumen kelengkapan KTSP di sekolah.

Kegiatan pembelajaran diciptakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Kegiatan pembelajaran disiapkan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Ketercapaian tujuan pembelajaran dilihat dari seberapa banyak indikator yang ditetapkan bisa dicapai siswa. Kegiatan pembelajaran yang bermakna akan berdampak luas kepada pemahaman siswa, antara lain mereka bukan hanya hafal dan paham terhadap sesuatu yang dipelajari tetapi juga dapat menerapkan dan mentransfer untuk kepentingan lain dalam kehidupannya.

Kelancaran dan efektivitas pembelajaran antara lain didukung oleh kehadiran alat bantu/media/sumber belajar yang tersedia. Ketersediaan alat bantu/media/sumber belajar memungkinkan siswa dapat belajar lebih baik, lebih intensif, dan lebih banyak potensi yang dapat dikembangkan. Oleh karena itu, alat bantu/media/sumber belajar perlu dihadirkan dengan tepat.

Lebih lanjut, alat bantu/media/sumber belajar perlu dimanfaatkan secara sinergis untuk mengoptimalkan pembelajaran. Sekalipun saat ini telah banyak media/sumber belajar yang canggih, alat bantu mengajar (papan tulis, penghapus, kapur/spidol) tetap diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran. Memang, media pembelajaran (OHP, LCD, dan sejenisnya) semakin memudahkan guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Akan tetapi media itu juga bukan segalanya. Penciptaan kondisi yang dapat mendorong siswa banyak membaca, berpikir, dan menulis tetap lebih utama.

Pemilihan alat bantu/media/sumber belajar harus benar-benar didasarkan atas pertimbangan fungsi dan bukan sekedar untuk memenuhi gengsi. Artinya, penghadiran alat bantu/media/sumber belajar harus benar-benar untuk dimanfaatkan secara optimal dalam rangka membantu siswa untuk belajar dengan sebaik-baiknya. Alat bantu/media/sumber belajar yang diperlukan harus ditulis secara rinci dan jelas—misalnya untuk sumber belajar yang berupa buku perlu dicantumkan judul buku, pengarang, penerbit dan nomor halaman—agar pihak lain yang membutuhkan dapat melacak dan menemukan dengan mudah. Informasi yang jelas mengenai alat bantu/media/sumber belajar yang digunakan dalam RPP juga menunjukkan bahwa pembuat RPP sangat bertanggung jawab terhadap sumber-sumber yang digunakan.

 Asesmen (assessment) adalah seluruh proses untuk mengumpulkan informasi terkait dengan kemajuan proses dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, tes (test) termasuk instrumen asesmen. Panduan pengamatan atau wawancara untuk melihat bagaimana kemampuan siswa berbahasa lisan juga termasuk instrumen asesmen.

Asesmen, tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi (ATPPE) harus dipahami secara benar dan digunakan secara tepat. ATPPE dalam pembelajaran Matematika dirancang untuk mengukur kemampuan siswa secara optimal. ATPPE harus dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan kompetensi yang harus dimiliki siswa dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Penilaian berbasis kelas dan asesmen otentik merupakan modus yang paling tepat untuk mengetahui kemajuan proses dan hasil pembelajaran Matematika.

Dalam silabus, hanya disebut teknik, bentuk instrumen, dan contoh instrumen asesmen, tetapi dalam RPP semua instrumen harus disiapkan dan bahkan kunci jawaban, rambu-rambu jawaban, atau rubrik penilaian yang diperlukan juga harus disediakan.

Guru sebagai pengajar menjadi fokus dalam kegiatan belajar mengajar, karena peranannya yang sangat menentukan guru harus mampu mentransformasikan pengetahuan yang dimilikinya kepada siswa. Melalui proses belajar mengajar guru harus mampu mengetahui kesulitan yang dialami siswa dan mencari alternatif pemecahannya. Sedangkan sebagai perencana pengajaran, guru diharapkan mampu merencanakan kegiatan belajar mengajar secara efektif. Salah satu alternatif yang dapat membuat pembelajaran Matematika lebih menarik dan siswa dapat berperan aktif adalah diciptakannya suatu media pembelajaran.

Media disini sangat penting untuk menarik siswa untuk mau belajar dan membuat siswa antusias dengan materi yang diberikan. Ada berbagai media pembelajaran yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satunya yaitu dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.

Informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang mempunyai arti dan bermanfaat bagi manusia. Sedangkan komunikasi adalah penyampaian pikiran oleh seseorang kepada orang lain melalui media. Media yang berbasis teknologi dan informasi ini diharapkan mampu memecahkan kesulitan yang dialami siswa.

Komputer sebagai sarana untuk menyajikan informasi dapat dimanfaatkan diberbagai bidang. Dalam sektor pendidikan pemanfaatan komputer sudah berkembang tidak hanya sebagai alat yang hanya dipergunakan untuk membantu urusan keadministrasian saja, melainkan juga sangat dimungkinkan untuk digunakan sebagai salah satu alternatif dalam pemilihan media pembelajaran berbasis TIK.

Komputer adalah salah satu contoh alternatif dalam pemilihan media pembelajaran, karena dengan adanya komputer sebagai multimedia yang mampu menampilkan gambar maupun tulisan yang diam dan bergerak serta bersuara, sudah saatnya komputer dijadikan sebagai salah satu alternatif pilihan media pembelajaran yang efektif dan menarik. Hal semacam ini perlu ditanggapi secara positif oleh para guru sekolah menengah, khususnya guru bidang studi Matematika komputer sebagai media bermanfaat bagi guru karena dapat dipergunakan sebagai alat bantu dalam menyiapkan bahan ajar maupun dalam proses pembelajaran sendiri. Oleh karena itu sudah semestinya para guru mengetahui manfaat komputer dalam proses belajar mengajar dan mampu menggunakannya dalam proses belajar mengajar. Dengan kemajuan teknologi diharapkan guru dapat membuat suatu media pembelajaran berbasis TIK untuk dapat dipergunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun di luar sekolah secara mandiri. Media ini diharapkan dapat mewakili peranan guru sehingga siswa dapat belajar dan memperoleh informasi dan dapat berkomunikasi secara tidak langsung terhadap materi yang sedang dipelajarinya.

Adapun standar kompetensi lulusan yang harus dikuasai oleh siswa SMA untuk mata pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :

1.    Melakukan percobaan, antara lain merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis, menentukan variabel, merancang dan merakit instrumen, mengumpulkan, mengolah dan menafsirkan data, menarik kesimpulan, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan dan tertulis.

2.    Memahami prinsip-prinsip pengukuran dan melakukan pengukuran besaran Matematika secara langsung dan tidak langsung secara cermat, teliti, dan obyektif.

3.    Menganalisis gejala alam dan keteraturannya dalam cakupan mekanika benda titik, kekekalan energi, impuls, dan momentum.

4.    Mendeskripsikan prinsip dan konsep konservasi kalor sifat gas ideal, fluida dan perubahannya yang menyangkut hukum termodinamika serta penerapannya dalam mesin kalor.

5.    Menerapkan konsep dan prinsip optik dan gelombang dalam berbagai penyelesaian masalah dan produk teknologi.

6.    Menerapkan konsep dan prinsip kelistrikan dan kemagnetan dalam berbagai masalah dan produk teknologi.

 

  1. B.       Pengelolaan Pembelajaran Berbasis TIK

Pengelolaan kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan kelas adalah mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar, yang meliputi pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif. Pengaturan kelas mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di kelas. Baik iklim kognitif, afektif, dan skill.

Iklim kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun siswa cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa ingin tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user). Adapun iklim skill adalah yang paling dominan tercapai. Penggunaan ICT menciptakan skill menulis, berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan tepat.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis ICT, diantaranya adalah:

1.   Penggunaan ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.

2.   Pengunaan ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada saat guru memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh. Adapun one student one laptop dan one laptop for four students digunakan untuk tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau pemecahan masalah.

3.  Penggunaan fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual, yaitu “one student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas bersifat kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934] (1962), salah satu pengagas konstruktivisme sosial, yang terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” (ZPD). “Proximal” dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky mengamati, ketika anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan, setiap manusia mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan ketuntasan belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat wilayah abu-abu. “Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat teraktualisasi, caranya dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum, terdapat tiga wilayah “cannot yet do”, “can do with help“, and “can do alone“. ZPD adalah wilayah “can do with help”, wilayah ini bukan wilayah yang permanen, kuncinya adalah menarik pembelajar menjadi dari zona tersebut, dengan cara bekerjasama.

 4. Guru harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.

5. Guru merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.

Di bawah ini adalah penjelasan mengenai model ADDIE dalam kaitannya dengan pembelajaran berbasis TIK atau e-Learning.

Tahap Analysis (Analisis)

Pada tahap analisis, pendidik menjadi penyelidik. Mencari tahu hal-hal berikut:

  1. Apakah tujuan dari pembuatan bahan ajar berbasis TIK ini?
  2. Apa tujuan pembelajaran yang hendak dicapai?
  3. Pengetahuan apa saja yang telah dimiliki oleh peserta didik mengenai materi yang akan disampaikan?
  4. Siapakah yang akan menggunakan bahan ajar berbasis TIK ini dan seperti apa karakteristik mereka?
  5. Bagaimana cara penyampaiannya?
  6. Dari segi pedagogis, apa yang perlu diperhatikan untuk pembelajaran online?
  7. Sampai kapan batas waktu pengerjaan ini?

Hasil akhir dari tahap analisis adalah pengetahuan mengenai kondisi awal dan informasi mengenai perencanaan seperti apa yang perlu dibuat.

Tahap Design (Desain)

Pada tahap desain, pendidik merupakan perencana. Pendidik mengambil seluruh informasi dari tahap analisis dan memulai proses kreatif dari merancang bahan ajar berbasis TIK untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pada tahap desain, pendidik mengidentifikasi materi dan sumber daya yang akan dibutuhkan, merancang kegiatan pembelajaran, menentukan bagaimana cara mengukur prestasi belajar peserta didik.

Hasil akhir dari tahap desain adalah sebuah cetak biru (blueprint) atau storyboard pembelajaran berbasis TIK.

 

Tahap Development (Pengembangan)

Pada tahap pengembangan, pendidik adalah pencipta. Pendidik membuat dan menyusun materi pembelajaran sesuai dengan rancangan atau storyboard yang telah dibuat pada tahap desain. Sumber daya yang diperlukan seperti audio, video, grafis dan multimedia lainnya mulai dikemas dalam sebuah bahan ajar. Pada tahap ini pula dilakukan ujicoba bahan ajar yang telah dibuat kepada beberapa peserta didik untuk memperoleh umpan balik dari mereka.

Hasil akhir dari tahap pengembangan ini adalah sebuah bahan ajar berbasis TIK.

 

Tahap Implementation (Pelaksanaan)

Pada tahap pelaksanaan, pendidik adalah fasilitator pembelajaran. Pendidik melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas, membantu peserta didik belajar, menilai penampilan mereka, dan mengidentifikasi cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar. Pada tahap ini pendidik membimbing peserta didik bagaimana menggunakan teknologi yang dipakai. Perlu dipastikan bahwa pada tahap ini semua teknologi yang dipakai harus dapat berjalan sebagaimana mestinya. Tahap pelaksanaan ini bisa juga dikatakan sebagai tahap evaluasi dari tahap perencanaan. Pendidik perlu mencatat apa saja yang meningkatkan pembelajaran dan apa saja yang menghambat pembelajaran peserta didik dari bahan ajar yang telah dibuat.

 

Hasil akhir dari tahap pelaksanaan adalah tentu saja terjadinya proses pembelajaran berbasis TIK yang efektif di dalam maupun di luar ruangan kelas.

 

Tahap Evaluation (Evaluasi)

Pada tahap ini pendidik merefleksikan dan merevisi apa yang telah dilakukan mulai dari tahap analisis, desain, pengembangan, dan pelaksanaan. Jika terdapat beberapa hal yang perlu diperbaiki, maka perlu diidentifikasi untuk kemudian disempurnakan. Terdapat dua bentuk evaluasi yakni evaluasi formatif, yang dilakukan pada masing-masing tahapan, serta evaluasi summatif untuk mengukur sampai seberapa jauh peserta didik mampu belajar dari bahan ajar berbasis TIK serta memperoleh umpan balik dari peserta didik.

Hasil akhir dari tahap ini adalah laporan evaluasi dan revisi dari masing-masing tahap untuk digunakan sebagai acuan revisi masing-masing tahapan serta umpan balik secara keseluruhan dari bahan ajar yang telah dibuat.

 

Pengelolaan pembelajaran berbasis TIK terdiri dari :

  1. Perencanan pembelajaran meliputi :
    1. penyediaan fasilitas jaringan komunikasi data,
    2. pangkalan data,
    3. media pembelajaran dan akses publik oleh sekolah

sedangkan guru perlu :

  1. menentukan materi yang dapat disampaikan dengan media TIK;
  2. menetapkan kegiatan tatap muka dan kegiatan online;
  3. menetapkan alat pembelajaran TIK; sumber belajar meliputi buku-buku elektronik, alamat situs web, materi presentasi, materi multimedia;
  4. menetapkan metode penilaian tes atau non tes.
  5. Pelaksanaan Pembelajaran dilakukan dalam kegiatan tatap muka melalui :
    1. tahapan penjelasan proses belajar;
    2. tahap eksplorasi sumber-sumber belajar;
    3. tahap kolaborasi berbagai sumber belajar untuk memperoleh pemahaman yang utuh;
    4. tahap refleksi mengambil kesimpulan dari topik yang sedang dipelajari,
    5. dan kegiatan online melalui LMS di luar kelas melalui tahapan mempelajari petunjuk belajar; mempelajari materi tutorial pada halaman web; mengikuti diskusi dan konsultasi online; mengerjakan tugas-tugas .

3.    Penilaian

Penilaian metode tes dan non tes yang dapat dilakukan dalam kegiatan tatap muka dan online dalam penilaian formatif dan sumatif. Metode tes dilakukan menggunakan tes interaktif yang dilengkapi dengan saran-saran dari hasil pekerjaan siswa. Metode non tes meliputi pemberian tugas mengembangkan topik-topik pembelajaran, menyusun materi diskusi, mengumpulkan materi pelajaran dari internet, forum online, membuat ringkasan dari materi secara online, atau membuat karya secara online.

  1. C.        Perencanaan Pembelajaran Matematika Berbasis TIK

Meskipun implementasi pembelajaran berbasis TIK yang ada sekarang ini sangat bervariasi, namun semua itu didasarkan atas suatu prinsip atau konsep bahwa pembelajaran berbasis TIK dimaksudkan sebagai upaya pendistribusian materi pembelajaran melalui media komputer, laptop, infokus dan media lain yang berbasis TIK. Ciri pembelajaran dengan e-learning adalah terciptanya lingkungan belajar yang flexible dan distributed.

Fleksibilitas menjadi kata kunci dalam sistem e-learning. Peserta didik menjadi sangat fleksibel dalam memilih waktu dan tempat belajar karena mereka tidak harus datang di suatu tempat dan waktu tertentu. Dilain pihak, dosen dapat memperbaharui materi pembelajarannya kapan saja dan dari mana saja. Dari segi isi, materi pembelajaranpu dapat dibuat sangat fleksibel baik dari bahan pelajaran yang berbasis teks samapai materi pemebelajaran yang sarat dengan komponen multimedia. Namun demikian kualitas pembelajaran dengan e-learning pun juga sangat fleksibel atau variatif, yakni bisa lebih jelek atau lebih baik dari sistem pembelajaran tatap muka (konvensional). Untuk mendapatkan sistem e-learning yang baik diperlukan perancangan yang baik pula. Distributed Learning menunjuk pada pembelajaran dimana guru, siswa dan materi pembelajaran terletak dilokasi yang berbeda sehingga siswa dapat belajar kapan saja dan dari  mana saja.

Implementasi suatu e-learning bisa masuk kedalam salah satu kategori tersebut, yakni bisa terletak diantara keduanya atau bahkan bisa merupakan gabungan beberapa komponen dari dua sisi tersebut. Hal ini disebabkan antara lain karena belum adanya pola yang baku dalam implementasi e-learning, keterbatasan perangkat keras maupun perangkat lunak, keterbatasan biaya dan waktu pengembangan. Adapun dalam proses belajar mengajar yang sesungguhnya, terutama di negara yang koneksi internetnya sangat lambat, pemanfaatan sistem e-learning tersebut bisa saja digabung dengan sistem pembelajaran konvensional yang dikenal dengan sistem blended learning atau hybrid learning.

Dalam merancang sistem e-learning perlu mempertimbangkan dua hal, yakni peserta didik yang menjadi target dan hasil pembelajaran yang diharapkan. Pemahaman atas peserta didik sangatlah penting, yakni antara lain adakah harapan dan tujuan mereka dalam mengikuti e-learning, kecepatan dalam mengakses internet atau jaringan, keterbatasan bandwidth, biaya akses internet, serta latar belakang pengetahuan yang menyangkut kesiapan dalam mengikuti pembelajaran. Pemahaman atas hasil pembelajaran diperlukan untuk menentukan cakupan materi, kerangka penilaian hasil belajar, serta pengetahuan awal.

Sistem e-learning dapat diimplementasikan dalam bentuk asynchronous, synchronous, atau campuran antara keduanya. Contohnya e-learning asynchronous banyak dijumpai di internet baik yang sederhana maupun yang terpadu dalam portal e-learning. Sedangkan e-learning synchronous, siswa dan pengajar harus berada di depan komputer secara bersama-sama karena proses pembelajaran dilaksanakan secara live, baik melalui video maupun audio conference. Selanjutnya dikenal pula istilah blended learning yakni pembelajaran yang menggabungkan semua bentuk pembelajaran misalnya on-line, live, maupun tatap muka (konvensional).

Dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang kegiatan pembelajaran, dapat dibangun system e-learning  yang diimplementasikan dengan paradigma pembelajaran on-line terpadu menggunakan LMS (Learning Management System) yang terkenal yaitu Moodle.

Melalui e-learning ini guru dapat mengelola materi pembelajaran, yakni : menyusun silabi, mengupload materi pembelajaran, memberikan tugas kepada siswa, meneriam pekerjaan siswa, membuat tes atau kuis, memberikan nilai memonitor keaktifan siswa, mengolah nilai siswa, berinteraksi dengan siswa  dan sesama siswa melalui forum diskusi, chat, dan lain-lain. Di sisi lain, siswa dapat mengakses informasi dan materi pembelajaran, berinteraksi dengan sesama mahasiswa dan dosen, melakukan transaksi dan tugas-tugas dalam pembelajaran, mengerjakan tes atau kuis, melihat pencapaian tes hasil belajar dan lain-lain.

E-learning dapat diimplementasikan dengan menggunakan LMS Moodle. LMS madalah perangkat lunak untuk membuat materi pembelajaran on-line (berbasis web), mengelola kegiatan pembelajaran serta hasil-hasilnya, memfasilitasi interaksi, komunikasi, kerjasama antar guru dan siswa. LMS mendukung berbagai aktivitas, antara lain: administrasi, penyampaian materi pembelajaran, penilaian (tugas, kuis), kolaborasi, dan komunikasi/ interaksi.

Moodle merupakan salah satu LMS yang dapat diperoleh secara bebas. Moodle dapat dengan mudah dipakai untuk mengembangkan system e-learning. Dengan Moodle portal e-learning dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan.

Salah satu keuntungan bagi guru yang menbuat perencanaan pembelajaran berbasis LMS adalah kemudahan. Hal itu karena guru tidak perlu mengetahui sedikitpun tentang pemrograman web, sehingga waktu dapat dimanfaatkan lebih banyak untuk memikirkan konten (isi) pembelajaran yang akan disampaikan. Disamping itu dengan  menggunakan LMS Moodle, maka kita cenderung untuk mengikuti paradigma e-learning yang memungkinkan menjalin kerjasama dalam “knowledge sharing” antar sekolah di Indonesia.

Model pembelajaran e-learning :

1.     Model tutorial, cara belajar mandiri, pada situasi latihan yang berorientasi pada siswa, sebagai tutor pengganti, siswa dapat berinteraksi dengan computer yang telah diprogramkan secara khusus (e-learning). Siswa berinteraksi secara langsung dengan computer yang telah deprogram untuk dimengerti isi programnya dan computer bereaksi terhadap respon yang dilakukan oleh siswa.

2.     Model simulasi, computer lebih berperan sebagai sumber belajar dari alat intruksi yang langsung. Oleh sebab itu dapat menimbulkan berbagai perubahan pada berbagai variable kunci. Situasi praktek simulasi dapat berasal dari subjek yang beragam.

 

  1. D.       Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Berbasis TIK

Dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika disesuaikan dengan karakteristik, lingkungan personal dan sosial siswa, sehingga lebih menarik dan kontektual. Pelaksanaan pembelajaran bukan lagi kegiatan mengajar, tetapi merupakan kegiatan belajar, yang memungkinkan siswa belajar tanpa kehadiran Guru. Siswa aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasai dengan pemanfaatan media tehnologi dan telekomunikasi. Metode yang digunakan yaitu dengan sistim belajar diskaveri /inkuiri

 

  1. E.        Evaluasi Pembelajaran Matematika Berbasis TIK

Evaluasi pembelajaran matematika dilaksanakan setiap pembelajaran pada awal, ditengah dan setelah akhir kegiatan. Evaluasi berupa tes tertulis, sikap, dan hasil kerja kelompok. Bentuk dan model penilaian yang digunakan bervariasi tergantung materi yang sedang dipelajari. Aspek yang masuk dalam penilaian pembelajaran Matematika tidak hanya mencakup kognitif, afektif saja, tetapi juga aspek psikomotor.

 

 

BAB III PENUTUP

 A.       Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari uraian sebelumnya adalah bahwa pembelajaran berbasis TIK dapat digunakan dalam pengembangan perencanaan, pelaksaanaan, dan evaluasi dalam pembelajaran Matematika, karena :

1.      Dapat mengakomodasi aktivitas pembelajaran secara utuh.

2.      Dikembangkan dengan sarana yang tersedia.

3.      Mendukung aktivitas sosial: interaksi, komunikasi dan kerjasama.

 B.       Saran

Bagi guru  yang memiliki kemampuan dan didukung infrastruktur yang memadai untuk mengembangkan pembelajaran berb asis TIK, dapat memulai mengembangkan penggunaan LMS dalam perencanaan pembelajaran mata pelajaran di sekolah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alessi, S.M. & Trollip, S.R. 2001. Multimedia for Learning ; methods and development.Massachutsetts : Allyn and Bavcon.

Dra. Ch. Ismaniati, M.Pd., 2001. Pengembangan Program Pembelajaran Berbantuan Komputer. Buku Pegangan Kuliah. Universitas Negeri Yogyakarta.

Kukuh Setyo Prakoso. 2005. Membangun E-Learning dengan Moodle. Yogyakarta.: Penerbit Andi Yogyakarta.

Nanang, Ars. 2010. Optimalisasi Pembelajaran Multimedia dengan LMS Moodle. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Pembinaan SMA.

Ruud, P., 2000, “School improvement through ICT: Limitations and Possibilities”,

Noerdin. 2011, Penerapan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (Tik) Dalam Pendidikan, Universitas Negeri Makasar

Kemdiknas.2011. Panduan Pengelolaan dan Pemanfaatan SchoolNet. Jakarta

Yusman.2011.  Pengelolaan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi Dan Komunikasi Smk Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional. Tesis Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s